Edukasi

Kamis, 10 November 2011

Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Berdasarkan sejarah perkembangan pandangan masyarakat terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) maka dapat dicatat bahwa kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarganya masih banyak yang terabaikan selama bertahun-tahun hingga saat ini. Sejarah juga mencatat bagaimana tanggapan sebagian besar masyarakat terhadap keberadaan anak-anak tersebut dan keluarganya. Sebagian besar masyarakat masih ada yang menganggap kecacatan atau kelainan yang disandang oleh anak berkebutuhan khusus sebagai kutukan, penyakit menular, gila, dan lain-lain. Akibat dari itu maka ABK dan keluarga ada yang dikucilkan oleh masyarakatnya. Ada diantara ABK sendiri yang menarik diri tidak mau berbaur dengan masyarakat karena merasa cemas dan terancam.
Kondisi tersebut tentunya membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap tumbuh kembang ABK, bahkan terhadap keluarganya (kedua orangtuanya). Thompson dkk. (2004) menyatakan bahwa pandangan atau penilain negative dari lingkungan terhadap ABK dan keluarganya merupakan tantangan terbesar selain kecacatan yang disandang oleh ABK itu sendiri dan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan beserta keluarganya. Bahkan cara pandang masyarakat yang negative menjadi stigma yang berkepanjangan (Rahardja, 2006). Dampak yang jelas sering ditemui adalah terhadap konsep diri, prestasi belajar, perkembangan fisik, dan perilaku menyimpang. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Thompson ….(2004) bahwa pandangan negative dari masyarakat terhadap kecacatan menyebabkan citra diri yang negative dari ABK.
                Sehingga persoalan yang dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus menjadi semakin bertumpuk-tumpuk. ABK tidak hanya harus mengatasi hambatan yang muncul dari dirinya sendiri, ia harus menghadapi pula berbagai tantangan atau rintangan yang datangnya dari lingkungan. Di satu sisi, ABK berupaya memenuhi kebutuhannya, sedangkan lingkungan sering tidak dapat memberikan peluang bagi ABK untuk dapat tumbuh serta berkembang sesuai dengan kondisinya itu. Maka tidak sedikit ABK tidak mencapai perkembangan yang optimal.
                Semakin bertambahnya permasalahan membuat ABK menjadi kelompok yang rentan “terpinggirkan” dari kehidupan social, poolitik, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Seolah-olah mereka bukan bagian dari anggota masnyarakat dan dianggap tidak membutuhkan hal tersebut. Sejatinya, ABK adalah anggota masyarakat juga, sama-sama makhluk tuhan yang membutuhkan banyak hal sebagaimana manusia lainnya agar mampu mengisi kehidupannya secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.
                Berdasarkan keadaan sebagaimana dipaparkan di atas maka ABK membutuhkan “alat” agar dirinya mampu mengatasi hambatan yang dialaminya dan mampu hidup mandiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Alat itu diantaranya adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan diharapakan ABK memperoleh bekal hidup dan mencapai perkembangan yang optimal. Namun, dengan menumpukknya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh ABK, tidaklah cukup melalui pendidikan dengan proses belajar mengajar di kelas. ABK juga butuh layanan yang mendukung kepada keberhasilan belajar dan layanan yang memandirikan untuk mencapai perkembangan yang optimal. Layanan itu adalah bimbingan dan konseling.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.       Bagaimana bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari – hari pada siswa dengan hambatan penglihatan dan pendengaran?
2.       Bagaimana bimbingan pada siswa dengan hambatan berfikir dan fisik motorik?
3.       Bagaimana bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari pada siswa dengan hambatan berfikir?

C.     Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus (BABK).
2.       Untuk mengetahui bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari – hari pada siswa dengan hambatan penglihatan dan pendengaran.
3.       Untuk mengetahui bimbingan pada siswa dengan hambatan berfikir dan fisik motorik.
4.       Untuk mengetahui bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari pada siswa dengan hambatan berfikir
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Bimbingan Bina Diri dan Keterampilan Hidup Sehari – hari Pada Siswa Dengan Hambatan Penglihatan dan Pendengaran
a.     Konsep dasar anak dengan hambatan penglihatan dan pendengaran
Anak tunanetra diartikan sebagai anak yang cacat indera penglihatannya, dalam arti indera penglihatan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Penglihatan seseorang dikatakan betul-betul terganggu apabila ia mempunyai ketajaman 20/200, yaitu ketajaman yang dapat melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang umumnya dapat dilihat oleh orang yang memiliki ketajaman penglihatan normal pada jarak 200 kaki. Adapun yang dimaksud dengan tunarungu merupakan hambatan pendengaran yang disebabkan oleh disfungsi saraf pendengaran atau ketidakfungsian alat pendengaran dan dapat dibedakan kedalam 2 kategori, yaitu tuli berat (deaf) dan masih ada sisa pendengaran (hard of hearing).
b.     Tujuan layanan bimbingan pada anak dengan hambatan penglihatan
Tujuan layanan dasar bimbingan adalah membantu seluruh siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan perkembangan. Fungsi layanan dasar bimbingan ini lebih bersifat pengembangan, karena merupakan upaya menyiapkan pelaksanaan bimbingan secara sistematik bagi seluruh siswa, termasuk siswa dengan hambatan penglihatan seperti siswa tunanetra.
Pengajaran dalam layanan dasar bimbingan ini diawali sejak pengalaman pertama siswa dengan hambatan penglihatan masuk sekolah, dengan materi yang diselaraskan dengan usia dan tahapan perkembangan siswa tersebut. Bidang bimbingan yang bobot materinya lebih berkaitan dengan layanan dasar bimbingan adalah “bimbingan pribadi”. Bimbingan pribadi ini lebih terfokus pada upaya membantu peserta didik mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang menyangkut pemahaman diri dan lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, kehidupan emosi, identitas diri, dan bimbingan menjadi pribadi yang mandiri.
Belajar bergaul dan bekerjasama dengan kelompok sebaya merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai siswa tunanetra di sekolah umum. Tugas perkembangan belajar bergaul dan bekerjasama dalam kelompok sebaya meliputi : 1.Cara mengenalkan diri, 2.Menghargai teman, 3. Bekerjasama dengan teman, 4. Kepedulian terhadap teman, 5. Mematuhi aturan permainan, 6. Bersaing dengan sportif, 7. Setia kawan, 8. Memahami perbedaan dan persamaan dengan kawan, 9. Cara menjadi pendengar yang baik.
c.     Program layanan bimbingan pada anak dengan hambatan penglihatan
Program layanan dasar bimbingan ini dapat dilaksanakan dengan efektif apabila 1) program dirancang sesuai dengan kebutuhan nyata siswa tunanetra dan kemampuan guru dalam membimbing 2) melibatkan semua tenaga pendidikan di sekolah dalam merencanakannya, seperti dengan kepala sekolah, pembimbing dan guru-guru 3) tujuan bimbingan diarahkan pada pencapaian tugas perkembangan siswa tunanetra khususnya dalam belajar bergaul dan bekerja sama dengan kelompok sebaya 4) pelaksanaan layanan diintegrasikan dengan mata pelajaran oleh guru bidang studi atau guru kelas dengan menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk memudahkan siswa tunanetra dalam belajar 5) memberikan kemungkinkan pelayanan kepada semua siswa baik yang normal maupun tunanetra 6) melibatkan orang tua dalam melaksanakan bimbingannya.   
d.     Konsep dasar bimbingan karir, fungsi, dan tujuan bimbingan karir bagi siswa dengan hambatan pendengaran
Fungsi bimbingan karir bagi siswa dengan hambatan pendengaran yang termasuk kategori tunarungu di SLB-B maupun disekolah reguler adalah menyelenggarakan seluruh layanan bimbingan yang penekanannya pada pemberian informasi dan bantuan dan siswa tunarungu dalam menyusun rencana pendidikan lanjutan dan rencana pilihan pekerjaan. Bagi siswa tunarungu yang telah memasuki jenjang SLTA/SMA, rencana pendidikan dan pilihan pekerjaan tersebut merupakan dua hal yang berkaitan erat. Sasaran akhir pendidikan lanjutan adalah dengan menentukan pekerjaan. Sedangkan bimbingan karir adalah suatu proses pemberian bantuan atau layanan penerangan/informasi, pengalaman, dan nasihat kepada individu untuk memilih, menyiapkan, menyesuaikan, dan menetapkan dirinya dalam suatu pekerjaan.
e.     Pengembangan program bimbingan karir
Pengembangan program bimbingan karir yang sistematis adalah sesuai dengan kebutuhan siswa tunarungu. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan agar program yang dirumuskan mampu mampu menyentuh aspek kebutuhan siswa dan kemampuan personil guru dalam pelaksanaan bimbingan karir. Untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan karir siswa, dapat dilakukan oleh guru saat siswa melakukan aktivitas belajar sehari-hari. Semua guru meyakini pentingnya perencanaan untuk mengetahui identitas siswa dengan kebutuhan-kebutuhan yang menunjang karir, itu semua sebagai dasar untuk menentukan pemberian materi, penempatan siswa sesuai dengan bakat dan potensinya sehingga memudahkan dalam pemberian bimbingan karir. Kebutuhan yang menunjangf karir siswa tunarungu antara lain : 1) pengetahuan yang dapat mengantarkan mereka mencapai tingkat perkembangan optimal sesuai dengan kemampuannya 2) akses kebahasaan yang lebih banyak 3) media komunikasi  yang dapat diterima dan dipahami oleh semua pihak 4) keseimbangan 5) deskripsi tentang jenis-jenis karir sesuai dengan potensi, persepsi, dan realitas.

B.    Bimbingan Pada Siswa Dengan Hambatan Berfikir dan Fisik Motorik
a.   Konsep dasar siswa dengan hambatan kecerdasan dan fisik motorik 
   Individu dengan hambatan perkembangan motorik adalah mereka yang mengalami keterbatasan dalam 10 wilayah spesifiknya dalam perilaku adaptifnya, seperti: a) berkomunikasi, b) merawat diri, c) kehidupan dirumah d) kemapuan social e) bermasyarakat, f) pengendalian diri, g) kesehatan dan rasa aman, h) fungsi akademik, i) menentukan waktu istirahat dan mementukan waktu bekerja. Mereka ini seringkali lebih mudah dikenali dibandingkan dengan individu yang hambat mengalami hambatan-hambatan lainnya.
b.  Identifikasi dini hambatan penginderaan (sensori) dan motorik
   Hambaan-hambatan yang dialami oleh anak usia prasekolah atau sekolah meliputi:
1) Hambatan pada fungsi penginderaan (Sensori)
   Penginderaan (sensori) adalah suatu kemampuan untuk merasakan, mendenganr dan melihat. Sedangkan apa yang telah dirasakan, didengar, atau dilihat melalaui indera itu masuk kedalam otak (sensori input), terintegrasi dan diolah didalam pusat interpretasi menjadi persepsi. Jadi sensori dan persepsi itu adalah dua istilah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain,bahkan dapat dikatakan persepsi sama dengan sensori analysis, yaitu suatu istilah yang digunakan pada proses pengenalan dan interpretasi (pemaknaan) informasi melalui indera.
   Pada umumnya anak tunagrahita itu mengalami hambatan pada fungsi indera penglihata (visual), meskipun anak ini pada kenyataannya mampu melihat, sehingga berakibat mereka mengalami kesulitan untuk membedakan satu objek dari yang lainnya.
2) Hambatan pada fungsi gerakan (Motorik)
   Anak-anak tunagrahita pada umumnya mengalami hambatan fungsi motorik, biasanya mereka mengalami kesulitan untuk mengontrol gerakan dengan sempurna. Walaupun anak tunagrahita ini dapat berjalan, berlari, meloncat, dan mengerjakan aktivitas motorik lainnya, tetapi gerakan-gerkannya kurang terampil dibandingkan dengan anak lainnya yang seusia.
3)  Hambatan belajar pada anak tunagrahita
   Anak tunagrahita ini pada umumnya tidak percaya diripada kemapuan dirinya, dia merasa tidak berharga sebagai anggota kelas. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa seorang anak yang rendah diri karena umpan balik negative (kritikan) akhirnya tidak pernah mau mencoba lagi. Selanjutnya, daripada gagal, anak lebih baik menghindar dari tugas tersebut.
c.  Bimbingan yang efektif pada anak tunagrahita
   Proses belajar yang terbaik untuk semua orang adalah dengan “learning by doing” yaitu belajar melalui kegiatan nyata untuk memperoleh penglaman. Inilah yang dimaksud dengn “belajar aktif’, atau “pembelajaran partisipatori”. Artinya, anak mempelajri pengetahuan / keterampilan baru melalui berbagai kegiatan dan metode pembelajaran.
1) Bimbingan melalui pembelajaran sensorimotor: penglihatan (visual), pendengaran (auditif), tactile (perabaan) dan gerak-kinestetik (motorik-kinestetik)  
   Ada pepatah mengatakan “Apabila saya mendengar, maka saya lupa, saya melihat dan saya ingat, saya melakukan dan saya paham.” Pepatah tersebut mengandung makana jika kita mengajar anak, apalagi anak tunagrahita hanya dengan ceramah klasikal dan anak mensengarkan, maka mereka hanya belajar sepertiga tentang sesuatu. Berdasarkan analisis empiris diatas dapat diartikan bahwa ketika kita merencanakan pembelajaran, kita perlu merencanakan penggunaan bahan ajar {poster, gambar, dll}, penggunaan tugas yang melibtakan diskusi (menyampaikan dan mendengarkan), dan memeberikan kesempatan untuk melakukan berbagai gerakan (misalnya drama atau teori yang bias dihubungkan dengan berbagai buday yang ada dikelas)
2)  Bimbingan melalui tahap sensorimotor
   Tiga tahap bimbingan yang dapat dilakukan untuk tercapainya tujuan dari bimbingan dari sensorimotor:
Tahap pertama: Nama benda (definisi)
                Pada tahap ini guru menempatkan hubungan antara benda dengan namanya, misalnya: ini adalah silinder, ini adalah kelereng, ini adalah yang besar, ini yang kecil, ini yang ringan, ini yang berat dsb.
Tahap kedua: Asosiasi, reproduksi (tahap mencamkan konsepdalam ingatan)
                Tahap kedua ini merupakan tahp latihan, dimana anak pasif menggunakan kata-kata, tetap aktif bertindak atau melakukan sesuatu. Pada tahap ini anak harus dilatih dengan intensif melaui beberapa dialog seperti dengan permintaan yang bervriasi.
Tahap ketiga : Abstraksi (anak aktif menggunakan kata-kata)
                Pada tahap ini dimulai oleh guru dengan menunjukkan sautu benda dan menanyakan pada anak benda tersebut. Pada tahap ketiga ini anak harus mampu menyebutkan sendiri nama benda dan menunjukkan nam bendanya.
3)  Materi bimbingan pembelajaran sensorimotor
                Materi bimbingan pembelajaran sensorimotor dapatdiklasifikasikan sebagai berikut:
a.     Bimbingan pembelajaran sensori penglihatan
Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal ukuran benda dua dimensi atau tuga dimensi (panjang, lebar, dan isi atau volume) juga meningkatkan pemahaman anak terhadap warna dasar, campuran dan urutan atau tingkatan warna.
b.     Bimbingan pembelajaran sensori perabaan
                Keterampilan dan kepekaan anak tunagrahita dalam mengenal dan membedakan permukaan benda yang kasar dan yang halus, tingkat kualitas perabaan serta bermacam-macam struktur permukaan benda akan meningkat.
c.Bimbingan pembelajaran sensori pendengaran
                Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan anak tunagrahita dalam membedakan bunyi dan nada serta kualitas urutan nada atau bunyi.
d.     Bimbingan pembelajaran sensori terhadap berat
                Diharapkan keterampilan anak tunagrahita meningkat dalam membedakan benda padat, cair dan gas.
e.Bimbingan pembelajaran sensori terhadap panas
                Keterampilan dan kepekaan anak tunagrahita meningkat terutama dalam temperature atau suhu suatu benda dalam linkungan alam.
f.    Bimbingan pembelajaran sensori penciuman
                Dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan anak terhadap perbedaan baud an kualitas bau suatu benda.
g. Bimbingan pembelajaran sensori rasa
                Untuk meningkatkan keterampilan anak dalam membedakan jenis-jenis rasa dan kualitas rasa dari suatu benda.
                Semua materi pelajaran tersbut akan dipelajaria oleh anak tunagrahita dengan menggunakan bahan materi yang ada disekitar anak atau yang dibuat dan dirancang oleh guru itu sendiri, dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar anak, maka akan dapat menimbulkan kepedulian anak terhadap lingkungan.
d.  Berbagai cara bimbingan sensorimotor pada anak tunagrahita
Kita dapat membantu semua anak belajar lebih baik dan akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar dari mengajar. Belajar aktif dan partisifatori bisa menggunakan banyak cara.
1)     Bimbingan belajar sensorimotor anak tunagrahita
Ada beberapa alur cara anak belajar sensorimotor adalah sebagai berikut :
·         Verbal atau linguistik ( berbicara atau berbahasa). Pada alur ini sebagian anak berpikir dan belajar melalui kata, memori, dan mengingat kembali secara lisan dan tulisan.
·         Logika atau matematika,  pada alur ini sebagian anak berpikir dan belajar melalui pemikiran dan perhitungan. Mereka dengan mudah bisa menggunakan angka, mengenal pola abstrak, dan melakukan pemikiran yang tepat.
·         Visual atau spasial ( penglihatan atau orientasi ruang). Pada pada alur ini seorang anak menyukai seni seperti : menggambar, lukisan atau patung. Mereka bisa membaca peta, grafik dan diagram dengan mudah.
·         Tubuh atau kinestetik (gerakan otot/tulang). Pada alur anak ini sebagaian anak belajar melalui gerakan tubuh, permainan dan drama.
·         Musik atau irama. Pada alura ini sebagian anak belajar paling baik melalui bunyi, irama, ritme,  dan pengulangan.
·         Antar pribadi. Pada alur ini anak lebih mudah belajar dalam kelompok melalui kerja kelompok. Mereka menyenangi kegiatan kelompok, mudah memahami situasi sosial, dan mereka bisa menjalin hubungan dengan orang lain secara mudah.
·         Dalam diri. Pada alur ini sebagian anak paling baik belajar dalam konsentrasi pribadi dan cermianan diri. Mereka bekerja sendiri dengan mudah dan paham akan perasaan diri dan mengeetahui kekuatan dan kelemahan diri.
·         Alami. Pada alur ini anak belajar sendiri melalui lingkungan alam sekitar secara langsung.  Ketika anak belajar, mereka mereka mungkin menggunakan beberapa  alur ini agar mudah mengingat dan memahami. Ini merupakan hal yang penting bagi kita untuk menggunkan strategi pembelajaran yang berbeda dan mencakup campuran alur belajar ini. Dengan demikian kita perlu mengembangkan rencana pembelajaran yang aktif dan kreatif  dalam mengelola kelas.
2)         Bimbingan untuk meningkatkan pembelajaran sensorimotor
Beberapa contoh kegiatan yang dapat meningkatkan pembelajaran sensorimotor adalah sebagai berikut:
·         Pilihlah sebuah mata pelajaran yang ingin anda ajarkan dan yang anda senangi.
·         Apa saja poin utama (informasi) yang anda inginkan agar anak belajar?
·         Apa saja metode yang anda lakukan untuk mengkomunikasikan informasi ini? Menurut anda, mengapa metode tersebut tidak berhasil? Misalnya apakah anak hanya menggunakan satu alur pembelajaran saja?
·         Apa saja kegiatan yang dapat anda gunakan dalam pemnbelajaran sehingga anak bisa mengunakan indra mereka  dalam belajar ? kegiatan ini termasuk pada alur pembelajaran apa saja?
·         Bagaimana anda dapat menggabungkan kegiatan ini ke dalam rencana pembelajaran anda?
·         Bagaimana anda dapat memmberikan kontribusi pada pererncanaan pembelajaran, khususnya anak yang biasanya tidak berpartisifasi di kelas atau anak-anak dengan beragam latar belakang dan kemampuan?
·         Uji cobakan pembelajaran tersebut. Kalau anada merasa yakin, tanyakan pada anak, jika mereka menyenangi pembelajaran itu. Kegiatan mana yang paling disenangi? Dapatkah anda menggunakan kegiatan ini untuk pembelajaran yang lainya?
e.  Metode bimbingan pengembangan sensorimotor
                Berdasarkan studi empiris di lapangan, Metode Fernald yang sering dikenal sebagai metode multisensory atau disebut juga metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, Tactile,), merupakan metode yang telah digunakan oleh para guru untuk mengajar anak-anak tunagrahita, baik di Sekolah, Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar (SD), maupun  di lembaga pelayanan/klinik yang menangani mereka. Fenomena yang muncul selama ini menggambarkan, metode Fernand, implementasi lebih memfokuskan pada : “Pemfungsian semua indira/sensori (seperti: penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan)  anak secara simultan. Dari setiap informasi atau materi pembelajaran yang akan diajarkan pada anak tunagrahita, baik pelajaran yang bersifat akademis maupun non akademis” (Fernand, 1998: 72).
Dengan demikian hambatan perkembangan yang terjadi pada indira tertentu  diharapkan bisa diatasi oleh indira lainnya yang masih berfungsi dengan lebih baik. Jadi, jadi dengan metode ini dapat dideskripsikan, anak tunagrahita dapat mengikuti proses belajar secara lebih utuh, aktif, dinamis, dan menyenangkan, sehingga mereka bisa mencapai  peningkatan kemampuan adaptif dan kognitif sesuai dengan kondisi objektif mereka.
Pada awalnya Fernald menekankan pada sensori  penglihatan, pendengaran, dan kinestetik-taktile untuk menelusuri dan mengenal huruf, bentuk, dan informasi lainya.
Menurut Grainger, J.(1997; 174) bahwa “ kemampuan membaca tergantung pada kemampuan anak tunagrahita untuk memecahkan kode itu secara jelas memahami hubungan antara wicara, bunyi, dan symbol yang diminta”.
Grainger, J. (1997: 205) juga menyarankan pentingnya “metode pembelajaran sensorimotor bagi anak tunagrahita yang dibuat untuk mengembangkan dan memperbaiki keterampilan kesadaran fonemis dan kesadaran ortografis (secara akurat mengembangkan dengan ejaan yang benar)”.
Karena itu perlu membangun hubungan sebanyak-banyaknya antara menulis, mengeja dan aspek-aspek linguistik.
Indikator guru yag terampil menggunakan metode Fernald adalah sebagai berikut :
1)       Memfokuskan pada pemfungsian semua indira/sensor dari anak secara simultan dan terpadu
2)       Stimulasi kinestetik dan tactile diberikan bersamaan dengan stimulasi auditori dan visual.
3)       Menggunakan langkah-langkah operasionalnya sebagai berikut :
a.       Melihat informasi,
b.       Mendengar guru menjelaskan informasi tersebut,
c.        Siswa menjelaskan dengan kata-kata sendiri,
d.       Mendengar sendiri apa yang dia katakan,
e.        Merasakan inforamasi tersebut melalui gerakan otot-ototnya ketika mengerjakannya,
f.        Merasakan informasi yang diperolehnya sebagai sesuatu yang bermakna,
g.        Memperhatikan aktifitas tangannya ketika memahami informasi tersebut melalui perabaan,
h.       Mendengar sendiri informasi yang telah dirasakan itu melalui penjelasannya.
f.  Layanan bimbingan belajar
Ada dua kemampuan dasar untuk anak sekolah untuk mengembangkan keterampilan menulis permulaan, yaitu, kemampuan keterampilan tangan dan kemampuan intelektual.
Kemampuan tekerampilan tangan, seperti: kemampuan menggerakan pergelangan tangan secara fleksibel, jari-jari menulis menulis harus dapat memegang pinsil dengan benar gerakan mencoret harus dapat membuat suatu bentuk dalam satu bidang.
Kemampuan intelektual meliputi : berpikir logis, misalnya, ketepatan artikulasi dalam berbicara, pembendaharaaan kata cukup dan dapat ditangkap dalam pikirannya, mengenal symbol-simbol huruf dan lafalnya yang sesuai, dan kemampuan menganalisis lafal huruf dalam kata, menyatukan kembali dengan benar lafal-lafal huruf tadi menjadi kata (sintesa).
Untuk kegiatan sehari-hari yang perlu diajarkan mencakup: keterampilan motorik, seperti koordinasio motorik dan control gerakan otot yang teratur dan terarah, serta menggerakan pergelangan tangan dengan lentur dan lancar serta melatih kepekaan ujung-ujung jari menulis. Lalu dengan tindak lanjut menelusuri bentuk - bentuk geometri.
Kemampuan sensorimotorik , tahap ini dengan melakukan membedakan macam-macam bunyi, dan irama, kepekaan terhadap bunyi-bunyi pada gerakan benda atau manusia, ketajaman membedakan dalam membedakan berbagai ukuran, kemampuan membedakan ukuran dalam bentuk tiga dimensi, kemampuan membedakan macam-macam bentuk geometri bidang datar.
                 





C.    Bimbingan Bina Diri dan Keterampilan Hidup Sehari-hari Pada Siswa Dengan Hambatan Berfikir
a.     Konsep dasar bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari
Bina Diri Dan Keterampilan hidup sehari-hari merupakan dua kecakapan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, bahkan secara konseptual maupun implementasinya di sekolah dan di rumah tidak terdapat perbedaan yang signifikan (berarti), melainkan kedua keterampilan tersebut saling melengkapi. Artinya, tanpa keterampilan dasar bina diri, maka anal-anak tunagrahita tidak dapat mempertahankan hidupnya, karena tidak memiliki keterampilan hidup sehari-hari kecuali dalam lingkungan yang sangat dilindungi. Pengajaran keterampilan ini tidak dapat menungggu hingga anak tuna grahita siap untuk belajar, bahkan tidak dapat kedua keterampilan tersebut diajarkan setelah mereka mempelajari berhitung atau menjodohkan gambar. Bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari mengajarkan kepada anak-anak untuk hidup mandiri yang merupakan fungsi dasar dalam kehidupan sehingga dapat membuat eksistensi mereka lebih baik bagi keluarga seperti teman-teman seusianya.
Keterampilan hidup sehari-hari adalah suatu keterampilan praktis yang memungkinkan anak atau orang dewasa tunagrahita mencapai kehidupan yang lebih mandiri atau lebih menyenangkan. Keterampilan hidup sehari-hari ini mencakup keterampilan dasar seperti: makan, berpakaian, buang air kecil dan besar, dan mencuci, serta keterampilan yang lebih tinggi seperti: belanja melakukan perjalanan dengan kendaraan umum, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, mengerjakan tugas yang berguna untuk rumah, mengatasi kendaraan darurat (emergencies), kegiatan vokasional (kejuruan).
Dalam mata pelajaran Bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari mempunyai dua tujuan yang hendak dicapai, yaitu: tujuan langsung dan tidak langsung. Adapun ditetapkannya tujuan langsung dari mata pelajaran ini, agar setelah menyelesikan mata pelajaran bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari, anak tuna grahita mampu mandiri, tidak tergantung pada oranglain dan mempunyai rasa tanggungjawab, serta kemampuan koordinasi motorik dan kontrolnya meningkat, sehingga dapat menumbuhkan rasa aman dan minat belajar. Sedangkan ditetapkannya tujuan tidak langsung dari mata pelajaran tersebut agar kemampuan konsentrasi dan ketekunan anak dalam belajar meningkat serta kemampuan sensorimotor (penginderaan), berbahasa, dan berpikir matematis berkembang secara optimal sesuai dengan kondisi dari setiap anak tunagrahita.
Mata pelajaran bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari dapat diajarkan secara efektif kepada anak-anak tunagrahita apabila berlandaskan pada prinsip-prinsip belajar seperti berikut ini: a) anak diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran yang sesuai dengan minatnya; b) penyajian materinya selalu mengikuti irama dan dinamika proses belajar; c) proses belajarnya senantiasa diulang sesuai dengan kebutuhan anak secara individual; d) peran guru/orang dewasa hanya mengantarkan anak untuk dapat menemukan sendiri kesalahannya. Dengan memperhatikan dan mengaplikasikan prinsip-prinsip belajar tersebut berarti kita mampu meningkatkan potensi anak tunagrahita sesuai dengan kebutuhan setiap individu.
b.       Klasifikasi materi bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari
Materi bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari ini dapat dikelompokan kedalam 6 (enam) jenis latihan-latihan dasar, yaitu: 1) latihan peningkatan kemampuan koordinasi motorik dan kontrol, 2) mengurus diri sendiri, 3) membersihkan lingkungan sekitar, 4) tata pergaulan dan sikap dalam masyarakat, 5) berjalan diatas sebuah garis, 6) latihan diam (ketenangan). Untuk lebih jelasnya memahami deskripsi latihan-latihan dasar tersebut, maka dapat dilihat pada uraian berikut ini:
(1)     Kemampuan koordinasi motorik dan kontrol
Latihan-latihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan koordinasi motorik dan kontrol pada ank tunagrahita meliputi:
a.       Berjalan
b.       Membawa atau mengangkat benda
c.        Membuka dan menutup
(2)     Kemampuan mengurus diri sendiri
Beberapa latihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan mengurus diri sendiri pada anak tunagrahita antara lain:
a.       Menggunakan sendok
b.       Menuangkan biji-bijian dan air
c.        Mencuci tangan dan pakaian
d.       Membersihkan sepatu
e.        Menggunakan cermin atau kaca
f.        Menggosok gigi
g.        Menyetrika
(3)     Membersihkan lingkungan sekitar
Latihan-latihan yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilan anak tunagrahita dalam membersihkan lingkungan meliputi:
a.       Membersihkan lingkungan di dalam rumah
b.       Membersihkan lingkungan di luar rumah
(4)     Tata cara bergaul dan sikap dalam masyarakat
Beberapa latihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan bergaul dan bersikap dalam masyarakatpada anak tunagrahita antara lain: bagaimana cara mengucapkan salam dan terimaksih pada orang lain, mendahului orang lain, meminta maaf, mengetuk pintu, dan menawarkan tempat duduk pada orang lain, berbicara dan mendengarkan orang lain bercerita, serta cara meminta dan menawarkan bantuan kepada orang lain, dan sebagainya.
Di samping itu mereka juga diharapkan mampu bersikap positif dalam kehidupan masyarakat, seperti: sikap bicara dan mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, sikap batuk, bersin, menguap, dan membersihkan hidung, serta sikap di meja makan seperti: menata taplak meja, menghidangkan makanan, dan sikap makan. Demikian pula dalam menggunakan barang atau peralatan,seperti: cara mengambil barang dan mengembalikan lagi pada tempat semula, meletakan sebuah penggaris diatas meja; dan sebagainya. 
(5)     Berjalan di atas sebuah garis
Kegiatan ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan langsung dan tidak langsung. Tujuan langsungnya adalah melatih koordinasi motorik dan kontrol serta keseimbangan tubuh. Sedangkan tujuan tidak langsung adalah meningkatkan kelincahan tubuh melalui koordinasi gerakan semua otot dan mampu berjalan dengan sikap tubuh yang benar.
c.        Proses bimbingan bina diri dan keterampilan hidup sehari-hari
Ketika akan membimbing keterampilan tersebut pada anak tunagrahita, pertama kita harus memutuskan apakah setiap anak telah siap memulai pelajaran. Ini sangat penting. Sebenarnya guru yang baik mengetahui dengan tepat materi apa yang diajarkan kepada anak dan yang dibutuhkan oleh setiap anak. Sikap dan tindakan guru atau orangtua yang memungkinkan setiap anak tunagrahita dapat mengikuti proses bimbingan dengan menyenangkan adalah sebagai berikut:
a.       Sikap ramah
b.       Memberikan motivasi dan reward (penghargaan yang seimbang)
c.        Prompting (memberikan beberapa pengenalan atau petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan anak)
d.       Shaping (suatu keterampilan yang kita mulai dengan menghargai beberapa respon yang awal yang mendasari tercapainya keterampilan yang diperlukan oleh anak)
e.        Chaining (merupakan beberapa rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh anak tunagrahita secara bertahap dan benar)
f.        Task Analysis (menguraikan/memecahkan tugas/pekerjaan menjadi sub-sub yang lebih kecil)
g.        Generalisasi (kemampuan mentransfer pengetahuan dan keterampilan bina diri dan hidup sehari-hari ke dalam situasi lain)

BAB III
KESIMPULAN

            Bimbingan adalah suatu proses, sebagai suatu proses, bimbingan merupakan kegiatan yang berkelanjutan, bimbingan adalah bantuan. Makna bantuan dalam bimbingan adalah mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan siswa dan bantuan itu diberikan kepada individu yang sedang berkembang, tujuan bimbingan adalah perkembangan yang optimal.
Pada dasarnya semua anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan permasalahan yang realtif sama, yaitu mengalami hambatan perkembangan intelektualnya, kesulitan dalam sosialisasi, emosinya tidak stabil, dan hambatan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
            Bimbingan terhadap anak berkebutuhan khusus hendaknya dilaksanakan secara terus menerus dan sistemik agar mereka kelak akan sanggup berdiri sendiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya.
            Jenis layanan bimbingan yang hendaknya diberikan meliputi bimbingan perkembangan fisik, bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajar, bimbingan dalam mengatasi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan bimbingan vokasional atau bimbingan pekerjaan.












DAFTAR PUSTAKA


     Setiawan, Atang.,dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung:    
                UPI PRESS.
Setiawati&Ima Ni’mah. 2006. Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI PRESS.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar